Sustainable Procurement in a VUCA World: Mengapa Harga Terbaik Tidak Selalu Berarti Value Terbaik ?
Selama bertahun-tahun, fungsi pengadaan sering kali dihadapkan pada satu pertanyaan sederhana: Berapa harga terbaik yang bisa kita dapatkan?
Penghematan biaya memang tetap menjadi bagian penting dari fungsi pengadaan. Namun, dalam kondisi bisnis yang semakin kompleks, harga tidak lagi cukup untuk menentukan apakah sebuah keputusan pengadaan benar-benar memberikan value bagi perusahaan.
Bayangkan sebuah perusahaan mendapatkan supplier dengan harga yang paling murah. Secara angka, keputusan tersebut terlihat menguntungkan.
Namun beberapa bulan kemudian, supplier tersebut mengalami gangguan produksi. Pengiriman terlambat. Kualitas tidak konsisten. Operasional ikut terdampak.
Pada akhirnya, penghematan yang diperoleh di awal harus dibayar dengan biaya, waktu, dan risiko yang jauh lebih besar.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa harga terendah tidak selalu berarti value tertinggi.
Ketika Risiko di Supply Chain Menjadi Risiko Bisnis
Dunia bisnis saat ini bergerak dalam kondisi yang semakin sulit diprediksi.
Ketegangan geopolitik dapat mempengaruhi perdagangan dan ketersediaan bahan baku. Volatilitas ekonomi dapat mengubah harga dan biaya. Gangguan rantai pasok dapat menghentikan aktivitas operasional. Sementara itu, climate risk dan tuntutan ESG semakin masuk ke dalam agenda perusahaan.
Bagi fungsi pengadaan, berbagai perubahan tersebut bukan sekadar isu eksternal.
Dampaknya dapat muncul dalam bentuk yang sangat konkret:
- kenaikan biaya,
- keterlambatan pasokan,
- ketergantungan pada supplier tertentu,
- gangguan operasional,
- masalah kualitas,
- hingga risiko reputasi dan kepatuhan.
Karena itu, fungsi pengadaan perlu melihat supplier bukan hanya dari berapa harga yang mereka tawarkan, tetapi juga dari seberapa mampu mereka mendukung keberlangsungan bisnis.
Di sinilah konsep Sustainable Procurement menjadi semakin relevan.
Sustainable Procurement Bukan Berarti Mengabaikan Cost
Ada anggapan bahwa sustainable procurement (pengadaan berkelanjutan) berarti perusahaan harus memilih opsi yang lebih “hijau” atau membayar lebih mahal demi sustainability.
Padahal, pendekatannya tidak sesederhana itu.
Sustainable Procurement pada dasarnya mendorong organisasi untuk mempertimbangkan aspek economic, social, dan environmental dalam keputusan pengadaan.
Economic
Bagaimana fungsi pengadaan memastikan cost tetap terkendali, sekaligus menjaga supply continuity dan resilience?
Social
Bagaimana organisasi memastikan supplier memperhatikan human rights, fair labor, serta social impact dalam aktivitasnya?
Environmental
Bagaimana fungsi pengadaan mempertimbangkan carbon, penggunaan resources, waste, hingga circularity?
Ketiganya perlu dilihat sebagai bagian dari business value, bukan sebagai agenda yang berdiri sendiri.
Dengan pendekatan ini, pertanyaan fungsi pengadaan mulai bergeser.
Bukan lagi hanya:
“Berapa murah kita bisa membeli?”
Tetapi juga:
“Apa value dan risiko dari keputusan ini dalam jangka panjang?”
Dari Supplier Selection hingga Supplier Performance
Implementasi Sustainable Procurement tidak harus berhenti pada penambahan satu klausul ESG dalam dokumen tender atau kontrak.
Pendekatannya perlu dilihat sebagai sebuah rangkaian.
Strategy → Sourcing → Supplier → Contract → Performance → ESG Outcomes
Pada tahap strategy, organisasi perlu memahami bagaimana sustainability berkaitan dengan tujuan dan risiko bisnis.
Dalam sourcing, sustainability requirements dapat dipertimbangkan bersama aspek cost, quality, capability, dan risk.
Pada tahap supplier management, organisasi dapat melihat bagaimana supplier memenuhi requirement yang telah ditetapkan.
Kemudian, melalui contract management dan supplier performance management, komitmen tersebut dapat dipantau dan dievaluasi secara lebih konsisten.
Dengan demikian, sustainability tidak berhenti sebagai policy, tetapi masuk ke dalam procurement decision-making.
Urgensinya Semakin Nyata di Indonesia
Perkembangan sustainability reporting di Indonesia juga membuat isu ini semakin relevan bagi organisasi.
Mulai 1 Januari 2027, PSPK 1 dan PSPK 2 mengenai Standar Pengungkapan Keberlanjutan mulai diterapkan.
Perkembangan tersebut semakin mendorong organisasi untuk melihat risiko dan peluang terkait sustainability serta climate secara lebih terstruktur.
Bagi Procurement, ini menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana data dan aktivitas di supply chain dapat mendukung agenda sustainability perusahaan.
Sebab, jika sustainability menjadi bagian dari business reporting dan risk management, maka pertanyaannya bukan lagi sekadar “apakah perusahaan memiliki sustainability policy?”
Tetapi juga:
“Bagaimana sustainability tersebut diterjemahkan ke dalam aktivitas bisnis, termasuk procurement dan supply chain?”
Menerjemahkan Sustainability ke dalam Procurement
Untuk dapat menerapkan pendekatan tersebut, Procurement Professionals membutuhkan pemahaman yang tidak berhenti pada konsep sustainability, tetapi juga bagaimana konsep tersebut diterapkan ke dalam proses procurement.
Salah satu kerangka yang dapat digunakan adalah ISO 20400 Sustainable Procurement, yang membantu organisasi mengintegrasikan prinsip sustainability ke dalam aktivitas pengadaan.
Melalui pendekatan ini, sustainability dapat diterjemahkan ke dalam proses yang lebih konkret:
Strategy → Sourcing → Supplier → Contract → Performance → ESG Outcomes
Pada akhirnya, tujuan Sustainable Procurement bukan sekadar membuat procurement terlihat lebih sustainable.
Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap keputusan procurement memberikan business value yang lebih utuh—dengan mempertimbangkan cost, continuity, risk, people, environment, dan kebutuhan bisnis jangka panjang.
Karena di era VUCA, Procurement tidak hanya dituntut untuk mendapatkan harga terbaik.
Procurement dituntut untuk membuat keputusan yang tetap memberikan value ketika kondisi berubah.
Sustainable Procurement Based on ISO 20400
Melalui program Training & Workshop Sustainable Procurement Based on ISO 20400 dari adw consulting, Procurement Professionals dapat mempelajari bagaimana prinsip sustainable procurement diterjemahkan ke dalam proses pengadaan—mulai dari strategy, sourcing, supplier, contract, hingga performance dan ESG outcomes.
https://training.adw.co.id/jadwal-training/detail?training=sustainable-procurement-training-batch-11
From Cost Saving to Sustainable Business Value.
From Procurement Risk to Business Resilience.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Hasya Azqia
Telepon: 0821-1787-8822
Email: hasya.azqia@adw.co.id


