Integrasi Ekonomi Sirkular dalam ESG dan Sustainable Procurement

Pendekatan tradisional yang berbasis linear economy—dengan pola take–make–use–dispose, menghasilkan “tekanan” besar terhadap lingkungan, mulai dari eksploitasi sumber daya hingga peningkatan limbah. Indonesia sendiri tiap tahun memproduksi sekitar 7,8 juta ton sampah plastik – 1,29 juta ton di antaranya mencemari lautan. Tanpa perubahan drastis, biaya global pengelolaan limbah diperkirakan membengkak dari USD 252 miliar (2020) menjadi USD 640 miliar per tahun pada 2050.

Sebagai respons, konsep Circular Economy muncul sebagai paradigma baru yang menekankan efisiensi sumber daya melalui siklus tertutup (closed-loop system).

Transformasi ini semakin relevan dalam konteks ESG, yang mendorong organisasi untuk mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam seluruh aktivitas bisnis, termasuk fungsi pengadaan. Di sinilah konsep Sustainable Procurement memainkan peran kunci sebagai penghubung antara strategi keberlanjutan dan operasional perusahaan.

Linear vs Circular Economy

Model ekonomi linear beroperasi dengan aliran satu arah, di mana sumber daya diekstraksi, diproduksi, dikonsumsi, dan akhirnya dibuang sebagai limbah. Model ini berorientasi pada peningkatan produksi dan konsumsi, namun mengabaikan keterbatasan sumber daya alam serta dampak lingkungan jangka panjang.

Sebaliknya, ekonomi sirkular mengadopsi pendekatan sistem tertutup dengan prinsip utama seperti reduce, reuse, repair, recycle, dan regenerate. Dalam model ini, limbah tidak dipandang sebagai akhir siklus, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali. Hal ini sejalan dengan upaya untuk:

  • Meminimalkan limbah dan emisi
  • Mengoptimalkan penggunaan material (baik biologis maupun teknis)
  • Meningkatkan umur pakai produk melalui desain yang berkelanjutan

Dengan demikian, ekonomi sirkular tidak hanya berkontribusi pada efisiensi operasional, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru melalui inovasi model bisnis seperti product-as-a-service dan remanufacturing.

Perbedaan utamanya antara ekonomi linear dan sirkular dapat dirangkum:

Ekonomi Sirkular dan Hubungannya dengan ESG

Penerapan ekonomi sirkular secara langsung mendukung pilar-pilar dalam ESG:

1. Environmental (Lingkungan)

Ekonomi sirkular mengurangi ketergantungan pada bahan baku mentah dan menekan emisi karbon melalui pemanfaatan ulang material. Praktik seperti daur ulang, refurbish, dan penggunaan energi terbarukan berkontribusi pada konservasi sumber daya dan perlindungan biodiversitas.

Sebagai contoh, perusahaan Coca-Cola Euro Pacific Partners Indonesia menargetkan penggunaan 50% PET daur ulang (rPET) untuk botol mereka pada 2025, hingga bebas plastik pada 2030. Langkah seperti ini secara langsung meminimalkan jejak karbon dan mengurangi limbah plastik.

2. Social (Sosial)

Analisis UNDP menunjukkan penerapan model nol-sampah penuh di lima sektor prioritas Indonesia dapat menambah jutaan lapangan kerja baru (bersih) hingga 2030. Bidang kerja baru mencakup pengumpulan dan pemrosesan limbah (recycling heroes), perbaikan perangkat, dan bisnis daur ulang. Selain itu, transparansi dalam rantai pasok juga meningkatkan perlindungan terhadap tenaga kerja dan komunitas.

3. Governance (Tata Kelola)

Mewujudkan ekonomi sirkular memerlukan tata kelola yang kuat. Pengadaan berkelanjutan memaksa perusahaan menetapkan kebijakan pengadaan yang mengutamakan kriteria ESG, misalnya melalui pembelian produk bersertifikat (SVLK untuk kayu, SNI bahan daur ulang, ISO 14001, dsb.), serta seleksi vendor berbasis keberlanjutan.

Sustainable Procurement sebagai Penggerak Ekonomi Sirkular

Jika ESG adalah arah tujuan, maka sustainable procurement menjadi mesin eksekusinya. Pengadaan mengontrol 60–70% total pengeluaran perusahaan dan menentukan material serta produk yang masuk rantai pasok. Oleh karena itu, langkah-langkah kecil di tahap pengadaan dapat memberikan dampak besar dalam lingkaran siklus.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  • Mengadopsi lifecycle approach dalam pengadaan
  • Mengembangkan kolaborasi dengan vendor untuk reuse/recycle
  • Menerapkan kriteria ESG dalam seleksi vendor
  • Memanfaatkan teknologi untuk monitoring dan evaluasi
  • Dan lain sebagainya

The Next Step

Apakah fungsi pengadaan perusahaan Anda sudah siap mendukung ESG dan ekonomi sirkular?

Banyak perusahaan sudah memiliki awareness, namun masih kesulitan dalam implementasi di level operasional.

Oleh karena itu, adw consulting mempersembahkan:

Pelatihan Sustainable Procurement Batch 10!



Apa saja yang akan dipelajari?

  • Pengenalan Pengadaan Berkelanjutan
  • Pemahaman Program Berkelanjutan
  • Integrasi Program Berkelanjutan dalam Proses Pengadaan
  • Merencanakan Program Pengadaan Berkelanjutan
  • Proses Pengadaan Berkelanjutan
  • Implementasi Program Pengadaan Berkelanjutan
  • Evaluasi dan Pelaporan Pengadaan Berkelanjutan
  • Kunci Keberhasilan dan Tantangan Pengadaan Berkelanjutan

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Email: marketing@adw.co.id

Whatsapp:  +62 821-1787-8822 (Hasya)